Shalawat yang dibaca Habib Munzir Al Musawa

Shalawat yang Dibaca Habib Munzir Al Musawa : Selengkapnya

Posted on

Exponesia.id – Shalawat yang dibaca Habib Munzir Al Musawa : Selengkapnya. Shalawat yang dibaca Habib Munzir Al Musawa adalah ungkapan keimanan dan koneksi kepada yang ilahi. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi kedalaman praktik suci ini, mengeksplorasi asal-usulnya, berkah yang dibawa, dan cara kalian bisa mengaplikasikannya dalam hidup kalian. Bergabunglah dengan kami dalam perjalanan spiritual ini ketika kita mengungkap keindahan Shalawat yang dibaca Habib Munzir Al Musawa.

Shalawat yang dibaca Habib Munzir Al Musawa adalah bentuk doa dan pujian yang dibacakan oleh penganut Islam. Ia memiliki tempat istimewa di hati para penganutnya dan terkait dengan Habib Munzir Al Musawa, seorang ulama Islam.

Shalawat Yang Dibaca Habib Munzir Al Musawa

Almarhum Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa adalah seorang ulama berpengaruh di Indonesia. Devosi dan penghormatan yang tulus kepada gurunya, Al Habib Umar bin Hafidz, telah mengantarkan Majelis yang ia pimpin—yaitu Majelis Rasulullah SAW—menjadi besar seperti yang kita kenal saat ini.

Konsistensinya dalam melakukan dakwah dari satu rumah ke rumah lainnya telah membuat Majelis yang ia lideri mendapatkan perhatian publik dan berhasil mengumpulkan pengikut lebih dari jutaan orang dari berbagai belahan dunia.

Tidak hanya berkat devosi kepada gurunya, Almarhum Habibana Munzir juga dikenal karena amalannya. Salah satunya adalah rutinitas membaca sholawat yang ia praktikkan setiap hari. Berikut adalah amalan sholawat yang sering disampaikan oleh Almarhum Habibana Munzir dalam ceramah-ceramahnya.

Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa:

Saya menyukai semua sholawat, dulu saya membaca 17 jenis sholawat, diantaranya sholawat Syeikh Abdul Qodir Jaelani yang panjangnya 13 halaman.

Namun kini saya membaca satu jenis sholawat saja yang diajarkan Rasulullah melalui mimpi’ pada saya, pendek saja, yaitu :

  • اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وصحبه وسلم

Allaahumma sholli ‘alaa Sayyidinaa Muhammadin wa aalihi wa shohbihi wa sallim.

(Yaa Allah ﷻ, limpahkanlah sholawat dan salam kepada Junjungan kami Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga dan sahabatnya)

Sholawat ini saya baca 5000 kali setiap hari.

Jika anda ingin membacanya silahkan.

Saya ijazahkan pada anda, boleh membacanya 100 kali 200 kali atau lebih atau berapa saja, sekemampuan anda dan luasnya waktu.

Dan bisa dibaca sambil di mobil, di jalan, atau dimana pun.

Qobiltu ijazah ..

Habib Munzir Al Musawa

  • والله اعلم بالصوب

Biografi Habib Munzir Al Musawa

Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa, yang lebih dikenal sebagai Mundzir Al-Musawa atau Munzir, dilahirkan pada tanggal 23 Februari 1973 di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.

Habib Mundzir adalah anak keempat dari lima bersaudara dari pasangan Fuad bin Abdurrahman al-Musawa dan Rahmah binti Hasyim al-Musawa. Masa kecilnya dihabiskan di daerah Cipanas, Jawa Barat, bersama-sama saudara-saudaranya, yaitu Ramzy Fuad al-Musawa, Nabiel Al Musawa, Lulu Fuad al-Musawa, serta Aliyah Fuad al-Musawa.

Ayahnya, yang lahir di Kota Palembang dan dibesarkan di Mekkah al-Mukarromah, menyelesaikan pendidikan jurnalistiknya di Universitas New York, Amerika Serikat. Setelah itu, ayahnya bekerja sebagai wartawan luar negeri selama sekitar 40 tahun. Awalnya, ia berkarier di harian Berita Yudha dan kemudian di harian Berita Buana. Pada tahun 1996, ayahnya wafat dan dimakamkan di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.

Habib Mundzir mengungkapkan, “Saya adalah seorang anak yang sangat dimanja oleh ayah saya. Ayah saya selalu memanjakan saya lebih dari anak-anaknya yang lain.”

1. Silsilah Habib Munzir Al Musawa

Mundzir bin Fuad bin Abdurrahman bin Ali bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Sulaiman bin Yaasin bin Ahmad Al-Musawa bin Muhammad Muqallaf bin Ahmad bin Abubakar As Sakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Al-Ghayur bin Muhammad al-Faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa Ar-Rumiy bin Muhammad Annaqib bin Ali Al-Uraidhiy bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Hussein dari Fatimah az-Zahra Putri Rasulullah SAW.

2. Wafat

Habib Mundzir memiliki penyakit asma kronis sejak kecil dan sering keluar-masuk rumah sakit. Pada tahun 2012 ia pernah dirawat di RSCM Jakarta karena penyakit radang otak. Habib Mundzir dinyatakan wafat secara medis saat berada di RSCM pada taggal 15 September 2013 jam 15:30 WIB pada usia 40 tahun. Sebelum meninggal, Habib Munzir juga pernah dioperasi karena ada cairan di perutnya.

Penyakit tersebut sempat menganggu aktivitas Habib Mundzir dalam berdakwah. Meskipun sedang dirundung rasa sakit, soal urusan dakwah, Habib Mundzir, menurut kakaknya Nabil, tidak pernah memikirkan sakitnya. Habib Mundzir pernah memakai kursi roda saat berdakwah, bahkan pernah memakai tempat tidur khusus dari rumah sakit. Di tahun 2012 sempat dilakukan penyedotan lemak pada tubuhnya.

Menurut penuturan yang ditulis di blog beliau, Habib Mundzir sempat bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. “Saya sangat mencintai Rasulullah SAW, menangis merindukan Rasulullah SAW, dan sering dikunjungi Rasululullah SAW dalam mimpi, Rasul selalu menghibur saya jika saya sedih, suatu waktu saya mimpi bersimpuh dan memeluk lutut beliau dan berkata wahai Rasulullah SAW aku rindu padamu, jangan tinggalkan aku lagi, butakan mataku ini asal bisa jumpa denganmu ataukan matikan aku sekarang, aku tersiksa di dunia ini”.

Rasulullah SAW menepuk bahu saya dan berkata, “Mundzir, tenanglah, sebelum usiamu mencapai 40 tahun kau sudah jumpa denganku maka saya terbangun”.

Saat sedang berkumpul bersama keluarga di rumahnya, Habib Mundzir masuk kamar mandi sejak siang namun sampai sore hari tidak juga keluar. Keluarganya mendobrak pintu kamar mandi dan menemukan Habib Mundzir sudah tergeletak di lantai tidak sadar. Ia pun dilarikan ke rumah sakit Cipto Mangunkusumo, namun satu jam kemudian para dokter menyatakan ia telah tiada.

Menurut penuturan kerabatnya, habib Munzir meninggal karena serangan jantung. Habib Mundzir dimakamkan di pemakaman umum Habib Kuncung di Kalibata, Jakarta pada hari Senin 16 September 2013 sekitar jam 13:00 WIB, setelah disholatkan di masjid Al-Munawwar Pancoran. Puluhan ribu umat muslim mengantarkan jenazahnya dan menyaksikan prosesi pemakaman dengan takzim.

3. Pendidikan Habib Munzir Al Musawa

Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah atas (SMA), Habib Mundzir memulai perjalanan dalam mendalami Ilmu Syariat Islam. Ia belajar di Ma’had Assafaqah yang saat itu dipimpin oleh Al-Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Selanjutnya, ia mengambil kursus Bahasa Arab di LPBA Assalafy Jakarta Timur dan memperdalam pengetahuannya tentang Syari’ah Islamiyah di Ma’had al-Khairat, Bekasi Timur.

Habib Mundzir terus mengasah keilmuannya di Ma’had Dar-al Musthafa di Tarim, Hadhramaut, Yaman, selama empat tahun. Di sana, ia mempelajari berbagai bidang ilmu, seperti Fiqih, Tafsir Al-Qur’an, Hadits, Sejarah, Tauhid, Tasawuf, Mahabbaturrasul SAW, Ilmu Dakwah, dan berbagai ilmu Syari’ah lainnya.

Pada masa remajanya, Habib Mundzir sempat putus sekolah. Ia lebih memilih untuk menghadiri majelis maulid Almarhum Al-Arif billah Al-Habib Umar bin Hud al-Attas dan Majelis taklim pada hari Kamis sore di Empang, Bogor. Saat itu, majelis taklim membahas kajian Fathul Baari yang dipimpin oleh Al-Habib Husein bin Abdullah bin Muhsin al-Attas. Sementara itu, saudara-saudaranya berhasil meraih prestasi akademik yang membanggakan orangtua mereka. Hal ini membuat Habib Mundzir merasa mengecewakan kedua orangtuanya, terutama ayahnya, Al-Habib Fuad bin Abdurrahman al-Musawa.

Ayahnya pernah berbicara kepadanya, “Apa yang ingin kau lakukan dalam hidupmu? Jika kau ingin mengejar ilmu agama, belajarlah dan tuntutlah ilmu hingga ke luar negeri. Jika kau ingin mengejar ilmu dunia, lakukan hal yang sama. Tapi aku menyarankan kau mengejar ilmu agama. Aku telah memahami keduanya, dan aku tidak menemukan kebahagiaan dalam kebanggaan yang terlalu mengagungkan Barat. Meskipun aku lulus dari New York University, aku tidak berhasil di dunia kecuali dengan tindakan licik, persaingan sengit dalam mencari posisi, dan aku ingin menghindarinya.”

Menurut Habib Mundzir, itulah yang mendorong ayahnya lebih memilih kehidupan sederhana di Cipanas, Cianjur, Puncak, Jawa Barat. Ayahnya, Al-Habib Fuad bin Abdurrahman al-Musawa, lebih suka hidup di luar kota besar, membesarkan anak-anaknya, mengajar mereka mengaji, ratib, dan shalat berjamaah. Habib Mundzir merasa sangat mengecewakan kedua orangtuanya karena belum memiliki tujuan yang jelas dalam hidup, baik dalam dunia maupun akhirat.

Belakangan, Habib Mundzir masuk ke pesantren Al-Habib Hamid Nagib bin Syeikh Abubakar di Bekasi Timur. Ia sering menangis dan berdoa kepada Allah SWT, merindukan Rasulullah SAW, dan berharap bisa bertemu dengan guru yang sangat dicintai oleh Rasulullah SAW saat menjalani qiyam maulid.

Beberapa bulan kemudian, Guru Mulia Al-Musnid Al-Allamah Al-Habib Umar bin Hafidz datang ke pesantren tersebut pada tahun 1994. Setelah menyampaikan ceramah, Habib Mundzir yang mengenakan peci hijau hanya bisa menangis sambil memandangi wajah yang penuh kedamaian itu. Saat Guru Mulia akan pergi naik mobil bersama Almarhum Al-Habib Umar Maula Khela, Guru Mulia memanggil Habib Nagib Bin Syeikh Abubakar dan mengatakan bahwa ia ingin mengajak Mundzir ke Tarim, Hadhramaut, Yaman, untuk belajar dan menjadi muridnya.

Guru Mundzir, Habib Nagib bin Syeikh Abubakar, awalnya menganggap Mundzir belum siap dan belum menguasai bahasa Arab, serta masih menjadi murid baru yang belum mengetahui banyak hal. Namun, Guru Mulia tetap memilih Mundzir dan berkata, “Itu, anak muda yang mengenakan peci hijau itu.” Setelah pertemuan pertama ini, Mundzir harus mempersiapkan diri untuk pergi ke Yaman.

Dua bulan setelah pertemuan dengan Guru Mulia Al-Habib Umar bin Hafidz, Almarhum Al-Habib Umar Mulakhela datang ke pesantren dan bertanya tentang Mundzir. Al-Habib Umar Maula Khela mengatakan kepada Al-Habib Nagib, “Mana Mundzir, anak Al-Habib Fuad al-Musawa? Dia harus berangkat minggu ini. Saya ditugasi untuk mengirimkannya.”

Awalnya, Habib Nagib menyatakan bahwa Mundzir belum siap. Namun, Al-Habib Umar Maula Khela dengan tegas menjawab, “Saya tidak peduli. Namanya sudah dicatat untuk berangkat. Ini adalah permintaan dari Al-Habib Umar bin Hafidz. Dia harus berangkat dalam dua minggu bersama rombongan pertama.”

Mundzir kemudian bersiap-siap, meskipun ayahnya merasa khawatir. Ayahnya berkata, “Kau sakit-sakitan. Kalau kau pergi ke Mekkah, aku akan tenang karena banyak teman di sana. Tetapi ke Hadhramaut, aku tidak punya kenalan di sana. Negeri itu tandus. Bagaimana jika kau sakit? Siapa yang akan menjagamu?”

Mendengar kekhawatiran ayahnya, Mundzir mengadukannya kepada Almarhum Al-Arif Billah Al-Habib Umar bin Hud al-Attas. Beliau yang sudah sangat berumur saat itu memberikan nasihat, “Katakan pada ayahmu bahwa aku yang akan menjagamu. Berangkatlah.”

Setelah menerima nasihat dari Al-Habib Umar bin Hud al-Attas, Mundzir kembali ke ayahnya, meskipun dengan hati berat. Ayahnya merasa sulit untuk melepas keberangkatan Mundzir.

Ketika Mundzir berada di Tarim, Hadhramaut, Yaman, terjadi perang antara Yaman Utara dan Yaman Selatan. Ini menyebabkan kelangkaan makanan dan pemadaman listrik, dan semua pelajar harus menempuh perjalanan jauh untuk menghadiri taklim, dengan jarak sekitar 3-4 km.

Dua tahun setelah tinggal di Yaman, Mundzir menerima kabar bahwa ayahnya sakit dan meneleponnya dengan kata-kata, “Kapan kau pulang, wahai anakku? Aku merindukanmu.” Mundzir menjawab, “Dua tahun lagi, insya Allah, ayah.” Namun, ayahnya hanya bisa berkata, “Masih lama sekali.”

Tiga hari kemudian, ayahnya dikabarkan meninggal dunia.

Penutup

Dalam memperdalam keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, shalawat memiliki peran yang sangat signifikan. Habib Munzir Al Musawa, seorang ulama dan dai besar Indonesia, turut menekankan pentingnya membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu cara untuk mendapatkan berkah dan rahmat Ilahi. Shalawat yang dibaca Habib Munzir Al Musawa tidak hanya merefleksikan kecintaannya kepada Rasulullah, tetapi juga menjadi salah satu warisan spiritual yang terus dihidupkan oleh umat Islam di Indonesia.

Di tengah-tengah derasnya arus modernisasi dan tantangan zaman, mari kita ingat kembali ajaran-ajaran para ulama besar seperti Habib Munzir. Melalui shalawat, kita diingatkan untuk selalu menjaga hubungan kita dengan Allah dan Rasul-Nya, sekaligus mempererat ukhuwah islamiyah di antara sesama.

Itu saja uraian secara lengkap yang bisa exponesia.id bahas mengenai Shalawat yang dibaca Habib Munzir Al Musawa. Semoga keberkahan senantiasa menyertai kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *